Wakil Rektor UMS: Masjid Adalah Jawaban atas Beragam Persoalan Umat

Strategi Mewujudkan masjid Percontohan Muhammadiyah Prof Muhammad Dai.pptx

Surakarta – Masjid bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat peradaban yang menyatukan dimensi spiritual, sosial, dan pendidikan. Hal ini disampaikan oleh Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sekaligus Wakil Ketua I Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Muhammad Da’i, S.Si., Apt., M.Si., dalam sebuah forum pada Rabu (9/7).

Wakil Rektor II UMS Prof. Dr. Muhammad Da’i, S.Si, Apt, M.Si
Wakil Rektor II UMS Prof. Dr. Muhammad Da’i, S.Si, Apt, M.Si

Prof. Da’i menegaskan bahwa masjid harus dimakmurkan, sebab dari sanalah kebangkitan umat dapat dimulai. “Masjid makmur memakmurkan, dari masjid kita bangkit, apapun masalahnya masjid solusinya,” ujarnya sembari mengutip ayat dalam Surah At-Taubah ayat 18 sebagai dasar spiritual dalam memakmurkan masjid.

Dalam paparannya, Prof. Da’i menyampaikan bahwa hingga kini terdapat 1.168 masjid Muhammadiyah yang telah terdata dalam Sistem Informasi Masjid Muhammadiyah (SIMASMUH). Setiap masjid Muhammadiyah, lanjutnya, harus memenuhi sejumlah kriteria utama, seperti berstatus wakaf atau milik resmi Muhammadiyah, memiliki surat keputusan takmir, serta menjalankan amaliyah sesuai dengan keputusan tarjih Muhammadiyah.

Lebih dari sekadar memenuhi syarat administratif, masjid dalam pandangan Muhammadiyah harus menjadi pusat aktivitas multidimensi. Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Dahlan Rais, sebelumnya juga telah menekankan pentingnya masjid untuk dikembangkan sebagai pusat peradaban: dari ibadah, pendidikan, pembinaan moral, kemanusiaan, pemberdayaan umat, hingga kaderisasi.

Prof. Da’i juga menguraikan strategi menuju masjid percontohan Muhammadiyah, yang dimulai dari perubahan paradigma dalam pengelolaan masjid. Masjid masa kini dituntut untuk memiliki visi dan misi yang jelas, manajemen yang kuat, serta mampu menghadirkan program dakwah dan pendidikan yang berkualitas, pelayanan sosial yang menjangkau masyarakat, serta fasilitas yang ramah dan inklusif.

“Penguatan komunikasi dan pemanfaatan teknologi, membangun kemitraan strategis, serta evaluasi yang berkelanjutan juga merupakan kunci dalam membangun masjid unggulan Muhammadiyah,” tambahnya.

Indikator masjid percontohan yang ideal, menurut Prof. Da’i, adalah yang memiliki kelembagaan tertib, aktif dalam pelayanan sosial dan kemanusiaan, serta menjadi pusat dakwah Muhammadiyah yang bersih, tertata, dan terbuka dalam pengelolaannya. Tak kalah penting, masjid juga perlu berkontribusi dalam memberdayakan ekonomi umat serta menyediakan pelayanan ibadah yang bermutu.

“Masjid yang terhubung dengan struktur persyarikatan Muhammadiyah adalah masjid yang tidak hanya aktif dalam syiar, tapi juga mampu menjawab tantangan zaman,” tutupnya.

Dengan semangat itu, masjid di lingkungan Muhammadiyah diharapkan tak hanya menjadi tempat ritual, melainkan juga ruang solusi dan transformasi sosial, tempat umat menemukan kembali harapan, arah, dan penguatan dalam menghadapi kompleksitas kehidupan modern.

sumber: Wakil Rektor UMS: Masjid Solusi Segala Masalah Umat – News UMS

Berita Lainnya

Scroll to Top