Surakarta – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperkuat diskursus global keislaman dan teknologi melalui penyelenggaraan kuliah umum internasional bekerja sama dengan Sapience Institute. Kegiatan ini menghadirkan dua tokoh internasional, Sheikh Hamza Andreas Tzortzis dan Sheikh Fahad Tasleem, dan dilaksanakan pada Jumat (19/12) di Ruang Seminar Pascasarjana UMS.
Mewakili Rektor UMS, Sekretaris Universitas Andy Dwi Bayu Bawono, S.E., M.Si., Ph.D., menyampaikan dukungan penuh terhadap kolaborasi strategis tersebut. Menurutnya, kemitraan dengan Sapience Institute memberikan kontribusi penting dalam memperluas wawasan akademik sivitas akademika, khususnya dalam merespons isu-isu kontemporer yang dihadapi umat manusia.
“Kami berharap civitas academica UMS dapat menggali pengetahuan baru dari dua pembicara berkelas dunia ini,” ujar Andy dalam sambutannya.
Andy menjelaskan bahwa Sapience Institute merupakan organisasi nirlaba yang berbasis di London, Inggris, dan didirikan oleh Hamza Andreas Tzortzis. Lembaga ini berfokus pada pendidikan Islam, pemberdayaan individu, dialog lintas pemikiran, serta dakwah berbasis intelektual.
“Semoga ilmu yang diberikan dapat diamalkan oleh dosen dalam kegiatan pembelajaran di UMS,” imbuhnya.
Pada sesi pertama, Hamza Andreas Tzortzis memaparkan materi berjudul “The Problem of Evil and the Rise of Youth Atheism”. Ia menjelaskan bahwa salah satu faktor munculnya ateisme, khususnya di kalangan generasi muda, berangkat dari realitas penderitaan yang terjadi di berbagai belahan dunia.
“Logika ini tidak rasional dan cenderung emosional. Orang ateis mengatakan Tuhan seharusnya punya kekuasaan untuk menghapus penderitaan umat manusia,” ujar Hamza yang juga menjabat sebagai CEO Sapience Institute.
Hamza menekankan bahwa dalam setiap peristiwa, Allah memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan yang tidak selalu dapat dipahami manusia. Konsep tersebut selaras dengan Asmaul Husna Al-Hakim, yang bermakna Maha Bijaksana. Menurutnya, penderitaan dan kebahagiaan merupakan bagian dari ujian kehidupan, di mana manusia diberikan kebebasan untuk memilih jalan kebaikan atau keburukan.
“Baik ujian dalam bentuk yang menyenangkan, maupun ujian berupa penderitaan,” tegasnya.
Ia mendorong umat Islam untuk terus menjaga keimanan, bersyukur, dan ikhlas dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan, sehingga tidak terjebak pada keraguan terhadap eksistensi Tuhan.
Sesi berikutnya diisi oleh Sheikh Fahad Tasleem dengan topik “Artificial Intelligence: Undermining or Elevating Religious Narratives?”. Fahad mengulas dampak revolusi kecerdasan buatan terhadap tatanan sosial, intelektual, dan spiritual manusia modern.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan AI berpotensi memindahkan ide dan gagasan manusia secara masif, tanpa diiringi penguatan kapasitas berpikir kritis. Kondisi ini, menurutnya, dapat melemahkan kecerdasan manusia jika tidak disikapi secara bijak.
Fahad memaparkan sejumlah tantangan yang muncul, mulai dari degenerasi kognitif, kontrol informasi oleh pihak tertentu, hingga pembentukan standar moral dan etika yang tidak selaras dengan nilai Islam. Ia mencontohkan fenomena AI yang mampu mereplikasi suara dan visual individu yang telah meninggal dunia.
“Islam adalah worldview dengan sistem lengkap, yakni etika, sosial, politik, ekonomi,” tegas Fahad.
Ia mengingatkan bahwa AI yang dikembangkan tanpa perspektif Islam berpotensi memengaruhi umat Muslim secara halus, mengingat perbedaan nilai antara filsafat Barat dan ajaran Islam. Oleh karena itu, Fahad mendorong umat Islam untuk tidak bersikap pasif, melainkan aktif berkontribusi dalam pengembangan dan pemanfaatan AI yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.
“Umat Islam juga harus bijak dalam menggunakan AI,” tandasnya.
Kuliah umum internasional ini menjadi wujud komitmen UMS dalam menghadirkan ruang dialog akademik yang kritis dan relevan, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam menjawab tantangan ideologis dan teknologi di era global.
sumber: Kolaborasi UMS x Sapience Institute Ketengahkan Isu Ateisme dan AI – Berita UMS








