Surakarta – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menegaskan eksistensinya sebagai kampus berdaya saing global melalui penyelenggaraan International Summit on Science, Technology, and Humanities (ISETH) 2025. Forum akademik internasional ini mengusung tema “Strategic Roles of University and Academia in Supporting Country Development” dan secara resmi dibuka oleh Rektor UMS, Prof. Harun Joko Prayitno, M.Hum., Rabu (10/12), di Ruang Seminar Lantai 7 Gedung Induk Siti Walidah UMS.
Dalam sambutan pembukaannya, Rektor UMS menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi atas kehadiran para akademisi dari berbagai negara yang turut berpartisipasi dalam ISETH 2025.
“Kami mengucapkan selamat datang di kampus kami. Suatu kehormatan bagi kami menyambut tamu, pembicara, dan peneliti dari 33 negara untuk bersama-sama berkontribusi dalam forum ini,” ujar Harun.
Rektor menekankan bahwa isu sains, teknologi, dan humaniora merupakan bidang strategis yang membutuhkan pendekatan kolaboratif lintas disiplin dan lintas negara. Menurutnya, universitas dan komunitas akademik global memiliki peran penting dalam menjawab tantangan pembangunan nasional dan global melalui riset yang berdampak.
Ia juga memaparkan sejumlah capaian internasional UMS yang menunjukkan tren positif, di antaranya keterlibatan UMS dalam THE World University Rankings 2026 radar, perolehan 7 Stars QS Rating, serta peningkatan kontribusi riset dan publikasi ilmiah. Hal ini semakin menguatkan posisi UMS sebagai perguruan tinggi dengan orientasi internasional.
UMS, lanjut Harun, terus mengembangkan diri sebagai kampus berbasis STEM, dengan sekitar 68 persen program studi berada dalam rumpun sains, teknologi, engineering, dan matematika.
“Komitmen UMS adalah menjadi World Class University pada 2029, karena itu, kami terus memperluas kolaborasi internasional dan mendorong peningkatan publikasi, riset, serta pengabdian,” jelasnya.
Sebagai bentuk keseriusan, UMS mengalokasikan hampir 15 persen dari total anggaran institusi yang mencapai sekitar Rp1 triliun untuk kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Anggaran tersebut mencakup pengembangan teknologi, publikasi ilmiah bereputasi, hingga program pemberdayaan berbasis riset.
Sementara itu, Ketua Panitia ISETH 2025, Prof. Ir. Sarjito, M.T., Ph.D., dalam laporannya menyampaikan bahwa penyelenggaraan ISETH tahun ini menunjukkan perkembangan yang signifikan.
“ISETH 2025 menawarkan 17 sub-konferensi lintas disiplin, dari engineering, science, education, health, psychology, law, hingga Islamic studies. Tahun ini, sebanyak 865 paper dipresentasikan dalam seluruh sesi,” jelas Sarjito.
Ia menambahkan bahwa peserta internasional berasal dari 33 negara, di antaranya Australia, Belanda, Jepang, Malaysia, Turki, Singapura, Ghana, India, Pakistan, Inggris, serta sejumlah negara di kawasan Afrika, Eropa, dan Oseania. Partisipasi luas ini menjadi indikator meningkatnya visibilitas akademik UMS di tingkat global.
“ISETH menjadi ruang interdisipliner yang mempertemukan ilmuwan, pendidik, peneliti sosial, dan inovator untuk berbagi gagasan, metode, dan solusi yang berdampak bagi humaniora,” tambahnya.
Sarjito juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia sub-konferensi, moderator, reviewer, peneliti, serta relawan yang telah berkontribusi dalam menyukseskan ISETH 2025.
ISETH 2025 menghadirkan sejumlah pembicara utama kelas dunia, di antaranya Prof. Dr. Mohd Azizuddin Mohd Sani dari Universiti Utara Malaysia, Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A. dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, serta Prof. Bambang Setiaji dari Majelis Diktilitbang Muhammadiyah.
Dengan keterlibatan akademisi global dan sajian riset mutakhir, ISETH 2025 diharapkan mampu memperkuat jejaring kolaborasi internasional, mendorong lahirnya riset interdisipliner, serta membuka peluang kerja sama penelitian yang berdampak luas bagi pembangunan dan kemanusiaan.
sumber: ISETH 2025 UMS Angkat Isu Interdisipliner untuk Masa Depan Penelitian Global – Berita UMS







