Surakarta – Dalam suasana hangat dan khidmat di Masjid Sudalmiyah Rais Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (21/6), Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menyampaikan pesan mendalam yang mengajak para calon wisudawan untuk memahami kembali makna ilmu, profesi, dan kehidupan.
Dalam tausiyah bertema “PT IMAM”, Prof. Harun menguraikan enam pilar utama yang dapat menjadi kompas dalam menjalani kehidupan pasca-kampus. Bukan sekadar nasihat akademik, tetapi rangkaian nilai spiritual, etika sosial, dan panduan moral yang berakar pada tradisi Islam dan pengalaman hidup.
“PT IMAM”, Sebuah Panduan Hidup Profesional dan Penuh Keberkahan
Dengan lugas dan menyentuh, Rektor menjabarkan makna dari akronim PT IMAM:
-
P – Profesi
Profesi bukan sekadar tempat mencari nafkah, tetapi medan untuk membangun hubungan antarmanusia yang sehat dan kolaboratif. “Profesi dalam pekerjaan penting untuk human relation, kunci kesuksesan,” ujarnya. -
T – Transendensi
Di balik gelar dan pekerjaan, ada tujuan hidup yang lebih luhur: ibadah dan kebermanfaatan. Transendensi, lanjutnya, menjadi fondasi dalam memaknai peran mahasiswa, pekerja, maupun insan sosial. -
I – Ilmu
Ilmu bukan hanya untuk diketahui, tapi untuk diamalkan. Ilmu yang bermanfaat, jika dipraktikkan, akan menjadi amal jariyah. “Ilmu yang bermanfaat akan menjadi amal jika diamalkan,” tegas beliau. -
M – Manfaat
Setiap ilmu, sekecil apa pun, harus mampu memberi manfaat bagi sesama. Seorang dosen meneliti untuk masyarakat, mahasiswa mengajar anak-anak kurang mampu—itulah contoh konkret kebermanfaatan. -
A – Amal
Ilmu yang sejati akan melahirkan tindakan nyata. Tidak harus besar, tetapi konsisten. Amal yang lahir dari ketulusan akan memperpanjang umur keberkahan ilmu itu sendiri. -
M – Memberi
Memberi bukan hanya tentang materi. Waktu, tenaga, perhatian, hingga senyuman juga bagian dari amal. “Semakin banyak memberi, semakin banyak menerima,” ungkapnya, mengutip prinsip keberkahan hidup.
Hidup Bermanfaat, Ilmu yang Mengalir, dan Bakti kepada Orang Tua
Dalam bagian akhir pesannya, Prof. Harun menekankan nilai luhur yang selalu ia tekankan dalam setiap kesempatan: berbakti kepada orang tua. Baginya, keberhasilan hidup tidak bisa dilepaskan dari ridha orang tua. “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua,” tuturnya penuh haru.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap gelar dan keberhasilan akademik, ada doa dan pengorbanan orang tua yang tidak ternilai.
Baitul Arqom: Merajut Spiritualitas dan Kesiapan Hidup Pasca Kampus
Acara Baitul Arqom Purna Studi ini diikuti oleh calon wisudawan UMS yang segera menuntaskan perjalanan akademiknya. Diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) UMS, kegiatan ini bertujuan membekali para lulusan dengan nilai-nilai spiritual dan moral sebelum benar-benar terjun ke tengah masyarakat.
Para peserta terlihat antusias dan terinspirasi dengan pemaparan Prof. Harun yang dikenal sebagai pemimpin humanis dan visioner. Bagi banyak mahasiswa, sesi ini bukan sekadar kegiatan wajib menjelang wisuda, tetapi momen reflektif yang akan dikenang sebagai bekal hidup jangka panjang.





