Surakarta – Isu kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kembali menjadi sorotan dalam forum akademik internasional. Dalam gelaran 6th International Conference on Islamic and Muhammadiyah Studies (ICIMS) 2026 yang berlangsung di Ruang Seminar Auditorium Moh. Djazman Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. KH. Romo R. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum., menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus selalu diiringi dengan tanggung jawab moral manusia.
Konferensi internasional yang digelar pada Selasa (10/2) tersebut menjadi ruang dialog strategis antara akademisi, praktisi, dan pemangku kebijakan untuk membahas relasi antara Islam, kemanusiaan, dan perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence.
Dalam sesi yang dimoderatori oleh Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., Wakil Rektor III UMS, Wamenag membuka paparannya dengan apresiasi terhadap kontribusi Muhammadiyah dalam dunia pendidikan nasional.
“Saya sangat mengapresiasi Muhammadiyah dalam bidang pendidikan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pendidikan tidak boleh terjebak pada pola lama, melainkan harus adaptif terhadap perubahan zaman. Menurutnya, generasi muda perlu dibekali dengan pengetahuan yang relevan dengan realitas kontemporer, termasuk dalam menghadapi revolusi teknologi berbasis AI.
“Ajarkanlah anakmu ilmu yang berbeda dari yang kau peroleh, karena anakmu hidup di zaman yang berbeda daripada hidupmu,” tuturnya.
Dalam konteks perkembangan kecerdasan buatan, ia menjelaskan bahwa AI pada dasarnya merupakan produk dari kecerdasan manusia. Namun, teknologi tersebut tidak memiliki dimensi moral sebagaimana manusia.
“AI adalah hasil dari kecerdasan manusia, tetapi ia tidak memiliki moral, nurani, dan perasaan atau emosi,” jelasnya.
Karena itu, tanggung jawab etis sepenuhnya berada di tangan manusia sebagai pencipta sekaligus pengguna teknologi tersebut.
“Wajib bagi manusia sebagai khalifah di bumi untuk bijak dalam menggunakan AI yang telah diciptakannya,” tegasnya.
Lebih jauh, ia mengajak peserta konferensi untuk melihat kembali konsep kecerdasan dalam perspektif Islam. Dalam pandangannya, manusia adalah bentuk “AI” pertama yang diciptakan Allah dengan kesempurnaan akal, fungsi kepemimpinan sebagai khalifah, dan tanggung jawab sebagai hamba.
“AI pertama adalah manusia itu sendiri, karena manusia diciptakan oleh Allah dengan kecerdasan yang luar biasa, disertai fungsi sebagai khalifah dan tugas menghamba. Itulah AI yang paling sempurna,” ungkapnya.
Menutup penyampaiannya, ia kembali menegaskan bahwa kecanggihan teknologi tidak boleh mengaburkan akuntabilitas manusia.
“Secanggih-canggihnya AI, AI tetaplah buatan manusia, dan manusialah yang bertanggung jawab penuh atas apa yang telah diciptakannya,” katanya.
Melalui forum ICIMS 2026 di UMS, diskursus tentang Artificial Intelligence diharapkan tidak berhenti pada aspek teknologis semata, tetapi juga mengintegrasikan nilai etika, kemanusiaan, dan spiritualitas. Pendekatan ini dinilai penting untuk memastikan bahwa perkembangan AI di era digital tetap sejalan dengan prinsip moral dan fondasi peradaban yang berkeadaban.
sumber: Wamenag Tekankan Tanggung Jawab Moral Manusia atas Kecerdasan Buatan di ICIMS 2026 UMS – Berita UMS





