Surakarta – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus menegaskan komitmennya dalam memperkuat kualitas akademik, riset inovatif, serta kontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan. Komitmen tersebut ditandai melalui rencana pengukuhan lima guru besar baru yang disampaikan dalam konferensi pers di Restoran Dapur Solo, Senin (19/1). Dengan penambahan ini, UMS kini memiliki total 70 guru besar.
Jumpa pers berlangsung khidmat dan penuh semangat akademik. Para calon guru besar memaparkan kontribusi keilmuan mereka di berbagai bidang strategis, mulai dari teknologi, kebencanaan, kesehatan, hingga kajian keislaman dan kebangsaan.
Sekretaris Universitas UMS, Dr. Andy Dwi Bayu Bawono, Ph.D., yang hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan rasa syukur atas bertambahnya guru besar di lingkungan UMS.
“Alhamdulillah nanti lima orang guru besar baru ini yang akan nanti menyampaikan beberapa hal,” tuturnya.
Guru besar ke-66 UMS, Prof. Dr. Suranto dari Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik, mengangkat gagasan technopreneurship sebagai model pembelajaran inovatif yang memadukan Artificial Intelligence (AI) dan kewirausahaan. Konsep ini dirancang sebagai inkubator pemberdayaan lulusan agar mampu menjawab tantangan pengangguran terdidik sekaligus mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.
“Hal ini digunakan sebagai metode pembelajaran, sebagai tempat melakukan pemberdayaan. Metode digunakan sebagai skenario pembelajaran, dan sarana sebagai model digunakan penguatan kepada masyarakat dalam pembelajaran,” jelas Suranto.
Ia berharap pendekatan technopreneurship mampu melahirkan lulusan yang mandiri, kreatif, berkarakter Islami, serta berkontribusi pada penguatan ekonomi digital nasional.
Guru besar ke-67, Prof. Eko Setiawan, S.T., M.T., Ph.D., juga dari Teknik Industri Fakultas Teknik, memfokuskan kajiannya pada penguatan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana alam. Berdasarkan data Emergency Events Database (EM-DAT), tercatat 393 bencana alam terjadi sepanjang 2024 dengan dampak material dan psikologis yang signifikan. Menurutnya, pembangunan masyarakat tangguh menjadi kunci dalam meminimalkan risiko jangka panjang akibat bencana.
Sementara itu, guru besar ke-68, Prof. Heru Supriyono, S.T., M.Sc., Ph.D., dari Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik, mengembangkan bidang instrumentasi dan kendali berbasis Internet of Things (IoT). Inovasi ini diarahkan untuk mendukung penguatan sains dan teknologi, terutama pada sistem pemantauan dan pengendalian jarak jauh yang efisien dan aman.
Ia menekankan bahwa pengembangan instrumentasi elektronik dan teknologi IoT memiliki peran strategis dalam mendukung hilirisasi riset serta pembangunan berkelanjutan di berbagai sektor.
Dari bidang kesehatan, guru besar ke-69 UMS, Prof. Dr. Umi Budi Rahayu, SSTFT., M.Kes., dari Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan, memusatkan perhatiannya pada terapi neurorestorasi pasca stroke. Fokus utama kajiannya adalah keseimbangan sebagai indikator penting dalam menentukan kemandirian fungsional pasien.
Umi telah mengembangkan inovasi berupa alat Personal Balance Feedback (PBF) yang berfungsi sebagai media deteksi sekaligus terapi gangguan keseimbangan pada pasien pasca stroke.
Adapun guru besar ke-70 UMS, Prof. Andri Nirwana, A.N., S.Th., M.Ag., Ph.D., dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Agama Islam, menyoroti persoalan etika publik dalam kehidupan berbangsa. Ia menilai lemahnya etika publik dapat memicu berbagai persoalan sosial, meskipun regulasi dan nilai agama telah ditetapkan.
“Pendekatan ini menempatkan ilmu tafsir sebagai disiplin interdisipliner yang berdialog dengan ilmu sosial kebijakan publik dan studi kebangsaan tanpa kehilangan akar metodologisnya,” ujarnya.
Melalui pengembangan kajian Ilmu Tafsir yang kontekstual, ia berharap dapat berkontribusi dalam memperkuat fondasi etika masyarakat Indonesia.
Rencana pengukuhan lima guru besar ini semakin menegaskan posisi UMS sebagai perguruan tinggi yang adaptif, unggul, dan berorientasi pada dampak. Tidak hanya menguatkan riset dan inovasi lintas disiplin, langkah ini juga memperkokoh peran UMS dalam mendukung pembangunan berkelanjutan berbasis nilai keislaman dan kebangsaan.
sumber: UMS Tambah 5 Guru Besar, Perkuat Riset Teknologi dan Pembangunan Berkelanjutan – Berita UMS






