BRIN Perkuat Konsolidasi Perguruan Tinggi, UMS Siap Akselerasi Hilirisasi Inovasi dan Riset Berdampak

news.ums_.ac_.id-BRIN-Dorong-Konsolidasi-Perguruan-Tinggi-UMS-Siap-Percepat-Hilirisasi-Inovasi-2

Surakarta – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menegaskan perannya sebagai research university swasta yang progresif melalui penyelenggaraan Sosialisasi Program Riset Strategis BRIN 2026–2030. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Seminar Lantai 7 Gedung Induk Siti Walidah, Minggu (1/3), menghadirkan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) RI, Arif Satria.

Dalam paparannya, Arif menekankan pentingnya roadmap riset nasional sebagai panduan strategis bagi dosen dan mahasiswa dalam menyusun skripsi, tesis, hingga disertasi. Menurutnya, penelitian tidak boleh berhenti pada publikasi ilmiah semata, tetapi harus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan industri.

“Riset harus berdampak. Harus menjadi jawaban atas persoalan masyarakat dan industri. Karena kemajuan bangsa ditentukan oleh inovasi dan jumlah peneliti yang terlibat,” ungkapnya.

Ia juga mengapresiasi konsistensi UMS dalam membangun ekosistem riset yang terarah dan berkelanjutan.

“Saya bangga dengan komitmen UMS dalam membangun ekosistem riset. Semoga semakin maju, semakin sukses, dan semakin banyak karya yang dihilirkan,” tuturnya.

Arif turut mengutip teori Endogenous Growth dari peraih Nobel Ekonomi, Paul Romer, yang menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh riset dan pengembangan (research and development/R&D), inovasi, serta kualitas sumber daya manusia. Ia menjelaskan bahwa Global Innovation Index memiliki korelasi kuat dengan GDP per kapita suatu negara—semakin tinggi indeks inovasi, semakin tinggi pula daya saing dan tingkat kesejahteraan.

Namun demikian, posisi Indonesia di kawasan ASEAN masih perlu diperkuat. Peningkatan kualitas dan konsolidasi riset antarperguruan tinggi menjadi pekerjaan rumah bersama.

“Kalau ingin maju, kita tidak bisa hanya mengirim proposal lalu berharap langsung disetujui. Yang dilihat adalah keseriusan membangun ekosistem riset secara konsisten,” tegasnya.

Dalam sesi reflektif, Arif mengingatkan pentingnya membangun ekosistem riset yang saling melengkapi sesuai kompetensi masing-masing institusi. Ia juga menyoroti tantangan pola pikir masyarakat yang belum sepenuhnya berbasis sains, mencontohkan fenomena viral seekor lele unik yang justru ditanggapi secara supranatural.

“Ketika yang diwawancarai adalah tokoh spiritual dan disebut sebagai ‘lele keramat’, di situ kita melihat sains belum menjadi rujukan utama. Ini tantangan dunia pendidikan,” ujarnya.

Sebagai referensi global, ia menyebut model institusi riset di Jerman seperti Max Planck Society untuk riset dasar, Leibniz Association untuk riset terapan, serta Fraunhofer Society yang fokus pada komersialisasi hasil riset.

Ia juga menyinggung inovasi Metal-Organic Framework (MOF) yang dikembangkan ilmuwan Jepang, Susumu Kitagawa, yang mampu meningkatkan kapasitas penyimpanan gas secara signifikan sebagai contoh lompatan teknologi berbasis riset fundamental.

Arif menambahkan, kemajuan ekosistem inovasi global seperti di Silicon Valley tidak lepas dari kolaborasi antara Stanford University dengan perusahaan teknologi dunia seperti Apple Inc., Google, dan Tesla Inc.. Di Tiongkok, perusahaan seperti Huawei menunjukkan kuatnya budaya riset korporasi dengan dominasi peneliti dalam struktur sumber daya manusia.

Melalui Program Riset Strategis 2026–2030, BRIN mendorong strategi leapfrogging atau lompatan teknologi agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga produsen inovasi global. Konsolidasi antarperguruan tinggi, termasuk kolaborasi UMS dengan berbagai kampus lain dalam model holding inovasi, dinilai menjadi kunci percepatan hilirisasi.

BRIN sendiri difokuskan pada pendanaan riset berbiaya dan berisiko tinggi, serta membuka peluang bagi mahasiswa S2 dan S3, asisten peneliti, hingga program post-doctoral untuk terlibat aktif dalam ekosistem penelitian nasional.

Sementara itu, Rektor UMS Harun Joko Prayitno mengajak seluruh peserta memaknai forum ilmiah tersebut sebagai bagian dari “Tadarus Riset”, yakni semangat kolektif membangun budaya penelitian yang berkelanjutan dan berdampak luas.

Ia juga mendorong lahirnya riset unggulan UMS yang berfokus pada pengurangan impor dan penguatan kebutuhan strategis nasional seperti pangan, energi, dan industri farmasi.

Melalui sinergi UMS dan BRIN, percepatan hilirisasi inovasi dan penguatan konsolidasi perguruan tinggi diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam peta inovasi global sekaligus menghadirkan riset yang benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat dan pembangunan nasional.

sumber: BRIN Dorong Konsolidasi Perguruan Tinggi, UMS Siap Percepat Hilirisasi Inovasi – Berita UMS

Berita Lainnya

Scroll to Top